MAKASSAR, BERITAPEDOMAN.com – PT Vale Indonesia Tbk berhasil membukukan produksi nikel dalam matte sebesar 17.631 MT, dan penjualan sebesar AS$165,8 juta di triwulan kedua 2019.
Produksi nikel dalam matte lebih tinggi ini sekitar 35 persen atau jauh meningkat jika dibandingkan produksi triwulan I-2019.
CEO dan Presiden Direktur PT Vale, Nico Kanter, mengungkapkan, selain produksi dan penjualan yang lebih tinggi, juga dicatatkan pendapatan lebih tinggi sekitar 31 persen pada triwulan II-2019 ini.
Hal ini didorong oleh penjualan dan harga realisasi rata-rata yang lebih tinggi pada triwulan II-2019 ini, sehingga penjualan nikel matte meningkat sekitar 22 persen menjadi 16.965 MT, dan harga realisasi rata-rata meningkat sekitar tujuh persen menjadi AS$9.774 per ton pada triwulan II-2019 ini.
“Realisasi ini jauh meningkat jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, dengan mempertimbangkan volatilitas harga nikel di pasar, kami tetap fokus pada optimalisasi kapasitas produksi kami, dan meningkatkan efisiensi, serta mengurangi biaya sambil tetap terus meningkatkan perbaikan di praktik kerja, dan kedisiplinan dalam menjaga kesehatan, keselamatan dan lingkungan,” katanya melalui laporan keuangannya yang diterima Beritapedoman.com, Rabu (7/8/2019).
Tak hanya itu, kata Nico, PT Vale juga membukukan EBITDA sebesar AS$28,8 juta pada triwulan II-2019 atau jauh lebih tinggi dibandingkan pada triwulan 1-2019 yang hanya sebesar AS$4,0 juta.
Hal ini disebabkan oleh penjualan dan harga realisasi rata-rata yang lebih tinggi serta beban pokok pendapatan per metrik ton nikel dalam matte yang lebih rendah.
Apalagi, Perseroan memproduksi dan menjual lebih banyak nikel dalam matte pada triwulan II-2019 jika dibandingkan triwulan I-2019, setelah aktivitas pemeliharaan yang telah direncanakan selesai dikerjakan.
Produksi dan beban pokok produksi per unit juga telah menunjukkan tren yang membaik di bulan Mei dan Juni. Selain itu, harga HSFO menurun sebesar tiga persen, diesel satu persen, dan batubara 18 persen dalam basis biaya per unit yang menyebabkan beban pokok produksi per unit yang lebih rendah dibandingkan triwulan I-2019.
Jika dibandingkan dengan triwulan I-2019, konsumsi HSFO, diesel dan batubara per metrik ton nikel dalam matte juga menurun pada triwulan II-2019 ini, yakni masing-masing 14 persen, 48 persen, dan 18 persen, sejalan dengan produksi nikel dalam matte yang lebih tinggi.
Penurunan konsumsi yang drastis pada diesel ini, dikarenakan telah beroperasinya kembali bendungan listrik Larona ke kapasitas normal setelah canal lining project diselesaikan pada April lalu.
“Dengan demikian, penggunaan generator berbasis diesel tidak diperlukan lagi sebagai tambahan sumber energi,” katanya.
Mengenai Kas dan setara kas Perseroan sendiri, lanjutnya, juga turun menjadi AS$111,9 juta pada 30 Juni 2019, dari sebelumnya AS$219,4 juta pada 31 Maret 2019.
Ini disebabkan oleh pembayaran terkait belanja modal, jatuh tempo piutang dan pelunasan pinjaman bank dipercepat pada triwulan II-2019 ini.
“Sejalan dengan itu, kami juga akan terus melakukan kontrol yang hati-hati atas pengeluaran untuk menjaga ketersediaan kas. Tak hanya itu, PT Vale juga hanya mengeluarkan sekitar AS$42,2 juta untuk belanja modal di kuartal ini, atau lebih rendah dibanding triwulan II-2019 yang sebesar AS$50,2 juta,” katanya.
Editor : Marwiah Syam
Comment